
Perjalanan saham PT Widodo Makmur Perkasa Tbk (WMPP) menghadirkan ironi di pasar modal. Saham emiten peternakan terintegrasi tersebut pernah melesat ke level tertinggi sepanjang masa ketika perusahaan masih dibayangi kerugian. Kini, saat kinerja keuangan mulai menunjukkan pemulihan dan perseroan berhasil membukukan laba, harga saham WMPP justru masih diperdagangkan di bawah level Rp50 per saham.
WMPP melantai di Bursa Efek Indonesia dengan harga penawaran Rp160 per saham. Dalam perjalanannya, saham perseroan sempat menikmati reli dan mencapai level tertinggi sepanjang masa. Namun, momentum tersebut tidak bertahan lama seiring memburuknya kinerja keuangan, membengkaknya kewajiban, serta munculnya persoalan pembayaran utang yang kemudian turut menekan kepercayaan investor. Data pencatatan menunjukkan WMPP menawarkan saham perdana pada harga Rp160 per saham.
Tekanan terhadap fundamental perusahaan berlangsung dalam beberapa tahun. Pada 2023, misalnya, WMPP membukukan kerugian Rp263,33 miliar hingga kuartal III, sementara total liabilitas mencapai sekitar Rp3,79 triliun. Perdagangan saham WMPP juga sempat terkena suspensi terkait penundaan pembayaran bunga Medium Term Notes (MTN).
Tanda-tanda perbaikan mulai terlihat sepanjang 2025. Pendapatan konsolidasi WMPP meningkat, sedangkan kerugian berangsur menyusut. Hingga sembilan bulan pertama 2025, perseroan mencatat pendapatan Rp697,6 miliar, tumbuh 87,2 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, dengan bisnis unggas menjadi kontributor utama.
Pemulihan berlanjut pada kuartal I 2026. WMPP berhasil membukukan laba bersih sekitar Rp130,3 miliar, berbalik dari kerugian Rp71,8 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya. Pendapatan juga tumbuh 40,9 persen secara tahunan. Perubahan tersebut menandai perbaikan signifikan setelah perusahaan melewati periode panjang penuh tekanan.
Namun, pemulihan laba belum sepenuhnya tercermin pada harga saham. Pada perdagangan awal Juli 2026, WMPP masih bergerak di kisaran puluhan rupiah dan berada di bawah level gocap. Kondisi ini memperlihatkan bahwa pasar masih mempertimbangkan berbagai risiko, termasuk keberlanjutan laba, struktur utang, kebutuhan modal, serta potensi dilusi dari aksi korporasi.
Perseroan juga telah memperoleh persetujuan untuk menggelar rights issue dengan menerbitkan maksimal 8,5 miliar saham baru. Aksi tersebut diarahkan antara lain untuk memperkuat struktur permodalan melalui konversi kewajiban menjadi saham dan menyediakan modal kerja. Bagi investor, langkah ini dapat membantu proses restrukturisasi, tetapi pada saat yang sama membawa risiko dilusi bagi pemegang saham yang tidak berpartisipasi.
Kisah WMPP menunjukkan bahwa pergerakan harga saham tidak selalu berjalan searah dengan laba-rugi perusahaan dalam jangka pendek. Setelah pernah terbang tinggi ketika fundamental berada dalam tekanan, WMPP kini menghadapi tantangan berbeda: meyakinkan pasar bahwa pemulihan laba pada 2026 dapat dipertahankan dan diikuti perbaikan neraca secara berkelanjutan.
Jessie Evelyn Kartadjaja adalah seorang penulis dan kreator konten yang bersemangat dengan fokus pada gaya hidup, budaya, dan tren kontemporer. Jessie berusaha menghadirkan konten yang menarik, informatif, dan menginspirasi, memberikan pembaca informasi sekaligus inspirasi.
