Ironi RI, Raja Rempah tapi Impor Jahe Terus Naik

Ironi RI, Raja Rempah tapi Impor Jahe Terus Naik
Ilustrasi. Foto: Ironi RI, Raja Rempah tapi Impor Jahe Terus Naik

Indonesia dikenal sebagai salah satu negara penghasil rempah-rempah terbesar di dunia. Namun di balik predikat tersebut, impor jahe justru masih berlangsung dalam jumlah yang cukup besar. Fenomena ini menjadi ironi karena di saat produksi dalam negeri masih tersedia, kebutuhan pasar nasional belum sepenuhnya mampu dipenuhi oleh pasokan lokal sehingga pelaku usaha tetap mendatangkan jahe dari luar negeri.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan produksi jahe nasional pada 2025 mencapai sekitar 168,97 ribu ton, turun sekitar 11,19 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Penurunan produksi itu menjadi salah satu faktor yang mendorong meningkatnya ketergantungan terhadap impor untuk memenuhi kebutuhan industri makanan, minuman, farmasi, hingga rumah tangga.

Selain penurunan produksi, pelaku usaha menilai pasokan jahe lokal masih menghadapi sejumlah tantangan, mulai dari produktivitas yang belum stabil, kualitas yang belum seragam, hingga keterbatasan kontinuitas pasokan sepanjang tahun. Kondisi tersebut membuat industri pengolahan memilih mengimpor jahe dari negara lain yang mampu menyediakan produk dengan spesifikasi dan volume sesuai kebutuhan.

Di sisi lain, konsumsi jahe di Indonesia terus meningkat. Rempah ini tidak hanya digunakan sebagai bumbu masakan, tetapi juga menjadi bahan baku utama industri minuman herbal, jamu, makanan olahan, kosmetik, hingga produk kesehatan. Permintaan yang terus bertambah belum sepenuhnya diimbangi peningkatan produksi nasional.

Pemerintah sebenarnya terus mendorong peningkatan produksi rempah melalui pengembangan sentra budidaya, penyediaan benih unggul, serta pendampingan kepada petani. Namun, hasil program tersebut dinilai masih memerlukan waktu sebelum mampu memenuhi kebutuhan pasar domestik secara optimal.

Pengamat pertanian menilai Indonesia memiliki peluang besar mengurangi ketergantungan terhadap impor jahe apabila produktivitas petani dapat ditingkatkan. Perbaikan teknologi budidaya, akses pembiayaan, penguatan rantai distribusi, hingga hilirisasi produk rempah dinilai menjadi faktor penting agar produksi nasional mampu bersaing baik dari sisi kualitas maupun harga.

Selain memenuhi pasar dalam negeri, peningkatan produksi juga berpotensi memperbesar ekspor rempah Indonesia. Selama berabad-abad, Indonesia dikenal sebagai pusat perdagangan rempah dunia. Karena itu, penguatan sektor jahe dinilai dapat mengembalikan daya saing komoditas rempah nasional sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani.

Pemerintah berharap kolaborasi antara petani, industri, dan pelaku usaha dapat memperkuat rantai pasok jahe nasional. Dengan produksi yang lebih stabil dan berkualitas, kebutuhan impor diharapkan terus menurun sehingga Indonesia tidak hanya dikenal sebagai “raja rempah”, tetapi juga mampu memenuhi kebutuhan dalam negeri dari hasil produksi sendiri.

+ posts

Jessie Evelyn Kartadjaja adalah seorang penulis dan kreator konten yang bersemangat dengan fokus pada gaya hidup, budaya, dan tren kontemporer. Jessie berusaha menghadirkan konten yang menarik, informatif, dan menginspirasi, memberikan pembaca informasi sekaligus inspirasi.