Kurs Dolar AS di BCA, BRI, Mandiri, dan BNI Menguat Seiring Pelemahan Rupiah

Kurs Dolar AS di BCA, BRI, Mandiri, dan BNI Menguat Seiring Pelemahan Rupiah
Ilustrasi. Foto: Kurs Dolar AS di BCA, BRI, Mandiri, dan BNI Menguat Seiring Pelemahan Rupiah

Nilai tukar rupiah kembali berada di bawah tekanan pada perdagangan Rabu, 1 Juli 2026, mendorong kurs jual dolar Amerika Serikat (AS) di sejumlah bank besar nasional bergerak lebih tinggi. Kondisi tersebut membuat masyarakat dan pelaku usaha yang membutuhkan mata uang asing harus menyiapkan dana lebih besar untuk melakukan transaksi valas.

Pelemahan rupiah terjadi seiring menguatnya dolar AS di pasar global. Pelaku pasar masih mencermati prospek kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat (The Fed), perkembangan geopolitik, serta sejumlah data ekonomi penting yang diperkirakan memengaruhi arah pergerakan mata uang dunia. Rupiah pada penutupan perdagangan sebelumnya berada di kisaran Rp17.900 per dolar AS dan diproyeksikan masih menghadapi tekanan pada awal Juli.

Sejumlah bank nasional telah memperbarui kurs transaksi dolar AS. Berdasarkan data terbaru, PT Bank Central Asia Tbk. (BCA) menetapkan kurs e-Rate dengan harga beli sekitar Rp17.945 per dolar AS dan harga jual Rp17.965. Sementara untuk layanan TT Counter dan Bank Notes, kurs jual telah menyentuh kisaran Rp18.040 per dolar AS.

Selain BCA, PT Bank Rakyat Indonesia (BRI), PT Bank Mandiri (Persero) Tbk., dan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BNI) juga melakukan penyesuaian nilai tukar mengikuti perkembangan pasar. Perbedaan kurs di masing-masing bank dipengaruhi jenis layanan yang digunakan, seperti e-rate, special rate, TT Counter, maupun Bank Notes. Nasabah biasanya memperoleh kurs yang berbeda bergantung pada nominal transaksi serta kanal yang digunakan, baik melalui aplikasi digital maupun kantor cabang.

Pelemahan rupiah diperkirakan masih dipengaruhi ekspektasi pasar terhadap kebijakan moneter The Fed yang cenderung ketat. Selain itu, investor global juga menunggu rilis data ketenagakerjaan Amerika Serikat yang berpotensi memberikan petunjuk mengenai arah suku bunga dalam beberapa bulan mendatang. Sentimen tersebut membuat permintaan terhadap dolar AS tetap tinggi sehingga memberi tekanan pada mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

Bagi masyarakat, perubahan kurs dolar menjadi perhatian terutama bagi pelaku impor, eksportir, wisatawan, hingga nasabah yang memiliki kebutuhan pembayaran dalam mata uang asing. Karena setiap bank menerapkan kurs berbeda dan dapat berubah sewaktu-waktu mengikuti kondisi pasar, calon nasabah disarankan membandingkan nilai tukar sebelum melakukan transaksi agar memperoleh harga yang paling sesuai.

+ posts

Jessie Evelyn Kartadjaja adalah seorang penulis dan kreator konten yang bersemangat dengan fokus pada gaya hidup, budaya, dan tren kontemporer. Jessie berusaha menghadirkan konten yang menarik, informatif, dan menginspirasi, memberikan pembaca informasi sekaligus inspirasi.