Bank Dunia memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 berada di kisaran 5 persen. Proyeksi tersebut dipengaruhi sejumlah faktor global, termasuk kenaikan harga minyak dunia yang berpotensi meningkatkan tekanan terhadap perekonomian nasional. Lembaga internasional tersebut menilai gejolak harga energi masih menjadi salah satu risiko utama bagi negara-negara berkembang, termasuk Indonesia. Kenaikan harga minyak dapat memengaruhi inflasi,

Bank Dunia memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 berada di kisaran 5 persen. Proyeksi tersebut dipengaruhi sejumlah faktor global, termasuk kenaikan harga minyak dunia yang berpotensi meningkatkan tekanan terhadap perekonomian nasional.
Lembaga internasional tersebut menilai gejolak harga energi masih menjadi salah satu risiko utama bagi negara-negara berkembang, termasuk Indonesia. Kenaikan harga minyak dapat memengaruhi inflasi, biaya produksi, serta beban fiskal pemerintah apabila subsidi energi meningkat.
Meski demikian, pertumbuhan ekonomi Indonesia dinilai tetap relatif kuat dibandingkan sejumlah negara lain di kawasan. Konsumsi rumah tangga, investasi, dan aktivitas sektor jasa masih menjadi motor utama yang menopang laju ekonomi nasional.
Bank Dunia juga menyoroti pentingnya menjaga stabilitas fiskal dan memperkuat reformasi struktural guna menghadapi ketidakpastian ekonomi global. Langkah tersebut diperlukan agar daya tahan ekonomi tetap terjaga di tengah perubahan kondisi pasar internasional.
Sejumlah ekonom menilai proyeksi 5 persen masih menunjukkan fondasi ekonomi yang cukup solid. Namun, pemerintah perlu mewaspadai risiko eksternal seperti konflik geopolitik, fluktuasi harga komoditas, serta perlambatan ekonomi global yang dapat memengaruhi kinerja domestik.
Dengan berbagai tantangan yang ada, kebijakan ekonomi yang adaptif dinilai menjadi kunci untuk menjaga momentum pertumbuhan sekaligus melindungi daya beli masyarakat dalam beberapa tahun mendatang.
















