Hilirisasi Plasma Darah Jadi Jalan RI Menuju Kemandirian Biofarmasi

Hilirisasi Plasma Darah Jadi Jalan RI Menuju Kemandirian Biofarmasi
Ilustrasi. Foto: Hilirisasi Plasma Darah Jadi Jalan RI Menuju Kemandirian Biofarmasi

Indonesia mulai memperkuat industri biofarmasi melalui hilirisasi plasma darah untuk mengurangi ketergantungan terhadap produk obat derivat plasma impor. Pembangunan fasilitas fraksionasi di dalam negeri menjadi langkah strategis agar plasma yang dikumpulkan dapat diolah menjadi produk medis bernilai tinggi untuk memenuhi kebutuhan nasional.

Selama ini, kebutuhan obat berbasis plasma di Indonesia masih banyak dipenuhi dari luar negeri. Padahal, plasma darah mengandung protein penting yang dapat diproses menjadi berbagai produk terapi, termasuk albumin dan imunoglobulin. Kehadiran industri fraksionasi domestik diharapkan membuat rantai produksi lebih mandiri sekaligus memperkuat ketahanan kesehatan.

Salah satu tonggak utama adalah pembangunan fasilitas fraksionasi plasma pertama di Indonesia oleh SK Plasma Core Indonesia di Karawang, Jawa Barat. Pemerintah menargetkan fasilitas tersebut dapat memasuki tahap operasi penuh setelah seluruh persiapan komersialisasi dan ekosistem pendukung diselesaikan.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menilai hilirisasi tidak cukup hanya mengandalkan keberadaan pabrik. Pemerintah juga perlu memastikan pasokan bahan baku tersedia secara berkelanjutan melalui pengembangan pusat pengumpulan plasma dan penguatan tata kelola dari hulu hingga hilir.

Tantangan tersebut menjadi penting karena industri fraksionasi membutuhkan volume plasma yang memadai, konsisten, dan memenuhi standar mutu. Tanpa sistem pengumpulan yang kuat, fasilitas produksi berisiko menghadapi keterbatasan bahan baku meskipun kapasitas pengolahan telah tersedia.

Pemerintah juga mendorong kolaborasi dengan berbagai institusi untuk membangun ekosistem industri kesehatan nasional. Sinergi dengan perusahaan farmasi, lembaga investasi, fasilitas kesehatan, dan pusat plasma dibutuhkan agar transfer teknologi serta pengembangan kapasitas produksi dapat berjalan berkelanjutan.

Dalam jangka panjang, keberhasilan hilirisasi plasma berpotensi membuka jalan bagi pengembangan bahan baku obat, vaksin, dan produk biofarmasi lainnya di Indonesia. Namun, kemandirian tersebut bergantung pada konsistensi regulasi, ketersediaan bahan baku, standar keamanan, serta kemampuan industri mengembangkan teknologi.

Jika ekosistem itu terbentuk, Indonesia tidak hanya dapat menekan ketergantungan impor, tetapi juga membangun fondasi industri biofarmasi nasional yang lebih kuat dan berdaya saing.

+ posts

Jessie Evelyn Kartadjaja adalah seorang penulis dan kreator konten yang bersemangat dengan fokus pada gaya hidup, budaya, dan tren kontemporer. Jessie berusaha menghadirkan konten yang menarik, informatif, dan menginspirasi, memberikan pembaca informasi sekaligus inspirasi.