
Harga emas kembali tertekan pada pertengahan Juli 2026 seiring penguatan dolar Amerika Serikat (AS) dan meningkatnya ekspektasi pasar terhadap kebijakan moneter ketat Federal Reserve. Kombinasi tersebut mengurangi daya tarik logam mulia, meski ketidakpastian geopolitik global masih membayangi pasar.
Pada perdagangan Senin (13/7/2026), harga emas spot merosot 2,9 persen ke kisaran US$4.001,13 per troy ounce. Sementara itu, kontrak emas berjangka turun sekitar 2,6 persen menjadi US$4.008,65 per troy ounce. Pelemahan tersebut membawa harga emas mendekati level psikologis US$4.000.
Tekanan terhadap emas muncul ketika lonjakan harga minyak memperkuat kekhawatiran mengenai inflasi. Kondisi itu membuat pelaku pasar mempertimbangkan kemungkinan suku bunga AS bertahan tinggi atau bahkan meningkat, sehingga aset tanpa imbal hasil seperti emas menjadi relatif kurang menarik.
Penguatan dolar AS turut memperbesar tekanan. Ketika mata uang Negeri Paman Sam menguat, harga emas menjadi lebih mahal bagi pemegang mata uang lainnya. Perubahan ekspektasi terhadap arah kebijakan The Fed dan pergerakan dolar kini menjadi faktor utama yang memengaruhi pasar logam mulia.
Tekanan terhadap emas sebenarnya telah berlangsung sejak harga komoditas tersebut mencapai rekor pada awal 2026. HSBC baru-baru ini memangkas proyeksi rata-rata harga emas tahun ini menjadi US$4.560 per troy ounce, dari sebelumnya US$4.864. Bank tersebut memperkirakan pergerakan emas sepanjang 2026 berada dalam rentang US$3.800 hingga US$4.700 per troy ounce.
Selain kebijakan moneter, arus dana investor juga menjadi perhatian. Produk exchange-traded fund berbasis emas mengalami arus keluar pada Juni, mencerminkan perubahan sentimen sebagian investor setelah harga logam mulia terkoreksi dari level tertingginya.
Meski demikian, prospek emas belum sepenuhnya kehilangan dukungan. Risiko geopolitik, persoalan fiskal, utang pemerintah, serta pembelian oleh bank sentral masih dapat menopang permintaan dalam jangka panjang. Namun, untuk jangka pendek, pergerakan dolar AS dan arah suku bunga The Fed diperkirakan tetap menjadi penentu utama harga emas.
Jessie Evelyn Kartadjaja adalah seorang penulis dan kreator konten yang bersemangat dengan fokus pada gaya hidup, budaya, dan tren kontemporer. Jessie berusaha menghadirkan konten yang menarik, informatif, dan menginspirasi, memberikan pembaca informasi sekaligus inspirasi.
