Rupiah Masih Tertinggal Saat Mata Uang Asia Menguat, Tekanan Eksternal Jadi Penyebab

Rupiah Masih Tertinggal Saat Mata Uang Asia Menguat, Tekanan Eksternal Jadi Penyebab
Ilustrasi. Foto: Rupiah Masih Tertinggal Saat Mata Uang Asia Menguat, Tekanan Eksternal Jadi Penyebab

Nilai tukar rupiah memang berhasil mengakhiri perdagangan terakhir pekan ini di zona positif. Namun, dibandingkan mata uang utama Asia lainnya seperti baht Thailand, ringgit Malaysia, dan won Korea Selatan, kinerja rupiah masih tertinggal. Sepanjang pekan, mata uang Garuda tercatat belum mampu memanfaatkan momentum pelemahan dolar Amerika Serikat (AS) sekuat negara-negara lain di kawasan.

Pelemahan dolar AS dipicu meningkatnya ekspektasi pasar terhadap peluang pelonggaran kebijakan moneter Federal Reserve (The Fed) setelah sejumlah indikator ekonomi Amerika menunjukkan perlambatan. Kondisi tersebut mendorong aliran dana ke berbagai aset di pasar negara berkembang dan mengangkat nilai tukar mayoritas mata uang Asia. Meski demikian, apresiasi rupiah relatif lebih terbatas dibandingkan mata uang regional lainnya.

Secara mingguan, baht Thailand, ringgit Malaysia, dan won Korea Selatan mencatat penguatan yang lebih besar terhadap dolar AS. Ketiga mata uang tersebut memperoleh dukungan dari kombinasi faktor domestik yang positif, seperti membaiknya prospek ekonomi, arus masuk modal asing, hingga sentimen investor terhadap kebijakan fiskal dan moneter masing-masing negara. Sementara itu, rupiah masih menghadapi tekanan dari tingginya permintaan dolar di pasar domestik dan kehati-hatian investor terhadap prospek ekonomi global.

Pelaku pasar juga masih mencermati perkembangan negosiasi dagang global, arah kebijakan suku bunga bank sentral utama, serta dinamika geopolitik yang memengaruhi arus modal internasional. Faktor-faktor tersebut membuat penguatan rupiah belum seagresif mata uang Asia lain meskipun indeks dolar AS sedang mengalami pelemahan.

Di sisi domestik, Bank Indonesia terus menjaga stabilitas nilai tukar melalui berbagai instrumen di pasar valuta asing maupun pasar surat berharga. Bank sentral juga menegaskan akan tetap mengoptimalkan bauran kebijakan moneter untuk menjaga stabilitas rupiah di tengah ketidakpastian global. Langkah tersebut diharapkan mampu mempertahankan kepercayaan investor sekaligus mengurangi volatilitas nilai tukar dalam beberapa waktu ke depan.

Analis menilai peluang penguatan rupiah masih terbuka apabila tekanan eksternal terus mereda dan aliran modal asing kembali meningkat ke pasar keuangan Indonesia. Namun, pergerakan rupiah diperkirakan tetap akan dipengaruhi oleh perkembangan kebijakan The Fed, data ekonomi Amerika Serikat, serta sentimen terhadap aset negara berkembang. Selama faktor-faktor tersebut masih berfluktuasi, laju penguatan rupiah kemungkinan akan bergerak lebih hati-hati dibandingkan sejumlah mata uang Asia lainnya yang saat ini tampil lebih perkasa terhadap dolar AS.

+ posts

Jessie Evelyn Kartadjaja adalah seorang penulis dan kreator konten yang bersemangat dengan fokus pada gaya hidup, budaya, dan tren kontemporer. Jessie berusaha menghadirkan konten yang menarik, informatif, dan menginspirasi, memberikan pembaca informasi sekaligus inspirasi.